Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sederhana, saya juga tinggal dilingkungan keluarga besar ayah saya. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi seorang chef dibidang pastry . Meski keluarga kami hanya memiliki penghasilan yang pas-pasan, tekad saya untuk mengejar mimpi tersebut tidak pernah luntur.
Saat saya kecil ayah saya kerja di perusahaan blubird dan keluar karna pengurangan karyawan pada saat saya masuk sd, saat itu ekonomi keluarga kami menjadi menurun. Apalagi saya mampunyai adik yang sudah seharusnya memasuki sekolah TK. Saat ayah saya sudah dikeluar dari perusahaan itu, ayah saya saat itu sering sekali mengekang saya menjadi anak yang sangat pintar untuk masa depan saya. Memang, saya mulai disekolah (mengaji) membaca menulis sejak umur 2 tahun, tetapi kalau dipaksa seperti itu saya juga ga sanggup.
Saya Sd di Madrasah, sekolah islam di jakarta timur. Yaitu MIN 16 JAKARTA. Saya masuk sana melalui jalur test, sebelum test saya bersaing dengan teman teman tk saya. Teman tk saya selalu dapet rangking 1 tetapi dengan sogokan, tapi sangat lucu kalo dibilang dia menyogok guru dengan sebungkus nasi uduk setiap harinya. Tetapi saat test, dari 5 orang yang keterima di MIN 16 JAKARTA cuma saya, bangga guru disana. Sampai saya dicium peluk saat itu.
Mulai masuk disana, saya dipaksa oleh ayah belajar dari pagi hingga malam supaya nilai selalu bagus. Walau saya punya bakat, memasak, menggambar, mewarnai. Semua itu ditolak ayah saya katanya "gaguna" Tetapi saya tetap membuktikan walau selalu diomel omel dan pernah saya dipukul.
Saya sering mejuari lomba mewarnai, walau sembunyi sembunyi. Bahkan sampai les menggambar gratis di RPTRA saja saya diam diam, kenapa?? Karna ayah saya ga bolehin. Sempat sekali ketauan, ayah saya marah, sampai membentak bentak saya di depan banyak orang.
Ada beberapa alasan mengapa ayah saya memaksa saya menjadi anak yang pintar. Yang pertama, karna saya anak pertama yang diharapkan untuk mendapat masa depan yang bagus. kedua saya memiliki kaka yang kalo dibilang sekarang dia kerja di telkom karna sebelum nya sekolah ditempat yang bagus, kaka saya itu menjadi bahan banding bandingkan saya. Yang ketiga, ayah saya berharap ekonomi dimasa depan saya terjamin.
Saat pembagian raport saya pernah menjadi rank 2 dan saya pastinya diomelin dong. Dari situ saya makin stress dan berpikir kenapa ayah saya sangat begitu. Saya mulai menuruti kemauan ayah saya. Saat mau lulus saya mendapat nilai sidanira yang tinggi, yaitu 91,75. Saya tenang saat itu saya mulai mencari sekolah tujuan saya.
Sekolah tujuan saya waktu itu hanya SMPN 9 Dan SMPN 49.Karna kaka saya dulu disana sekolah nya. Saya mencoba daftar di sana lewat ppdb, ternyata saya terpental di ppdb karna saya tidak miliki sertifikat prestasi apa apa. Karna apa? Ayah saya, dia tidak pernah membolehkan saya ikut lomba apa apa. Saat itu saya marah dengannya, saya menangis kecewa karna tidak bisa masuk di SMPN tersebut.
Akhirnya ayah saya sepakat memasukkan saya ke smp 106,tetapi ayah saya salah liat. Angka nya kebalik dari 106 ke 160.Jadinya saya keterima di 160 karna salah pencet dan liat. Saya gatau waktu itu Smpn 160 dimana dan apa, saya bingung saat itu. Saya tidak punya teman siapa siapa.
Saat masuk di SMP, saya masih marah dan acuh kepada ayah saya. Karna saya kecewa pada dia. Saya masuk SMP, mengikuti MPLS dan ternyata saya punya teman. Padahal saya seorang pendiam dan susah ngomong karna dari kecil selalu belajar terus dari pagi hingga Malam dan menjadi anak yang jarang bersosialisasi dengan orang orang. Teman pertama yang saya kenal adalah A. N yang sekarang di kelas 9b.Tapi saya tidak dekat dengannya. Dan saya kenal dengan orang bernama bianca, dia baik banget. Saya berteman dengan dia sampai kelas 8.tapi sayangnya dia pindah sekolah. Dia anaknya baik, kalem, pintar, dan tutur katanya itu loh anti anti mulut jorok deh.
Semenjak main sama bianca, saya terinspirasi untuk aktif di sekolah ini, walau sekolah ini agak gimana ya. Saya join ekskul padahal di sd saya ga ikut apa apa. Lalu saya join osis dan ternyata keetrima menjadi ketua sekbid 4.Saat osis, saya mendapatkan tugas lebih yaitu suka membuat poster untuk event. Karna ga ada yang bisa bikin poster bagus seperti saya. Karna sering buat poster itu. Makanya nama saya mulai dikenal oleh orang orang dan guru, bukan dari poster tersebut saja, saya dikenal sebagai anak yang diam dan pintar.
Saya mulai diajak guru untuk ikut lomba poster diluar sekolah, walau tidak juara tapi orang orang bisa tau dan saya bisa mewakilkan sekolah ini.
Masuk kelas 9,saya mulai memikirkan untuk masa depan, saya bingung menentukan pilihan untuk masuk ke SMA atau SMK. Dengan kebingungan itu saya minta pertolongan ke tuhan yang maha ESa untuk menunjukkan jalan ke jalan yang benar. Pada bulan Oktober kemarin, saya akhirnya menentukan untuk masuk SMK saja karna saya ingat dengan cita cita saya. Tapi ayah saya lagi lagi agak meragukan.
Ayah saya lagi lagi memaksa saya untuk masuk Sekolah kedinasan, tentunya saya tolak. Saya gamau kecewa untuk kedua kalinya. Walau disana bagus tetapi saya tidak mungkin masuk kesana.
Saya ingin masuk SMK dengan jurusan tata boga. Karna nilai saya terbilang cukup besar, walau saya mendapatkan nilai itu agak ngejahatin orang. Saya serinh bohong akan jawaban soal. Saat mereka minta Jawaban, kadang saya salahkan demi nilai saya yang tinggi. Maaf ya teman temanku. Tetapi saya bingung lagi, mau melanjutkan kuliah atau tidaknya, kalau kuliah jurusan apalagi??.
Saat saya scroll Tiktok, saya melihat jurusan yang bagi saya seru banget, dan saya ingin itu dari dulu. Yaitu Teknologi pangan dan teknik pangan. Saat saya tanya teman saya katanya sih ga nyambung, saya makin pusing lagi saya SMA atau SMk ya. Sampai sekarang saya belum tau. Saya sekarang ingin sekali kerja di BPOM untuk nantinya. Saya berharap si, saya bisa memilih jenjang yang benar dan menjadi orang sukses untuk menaikkan derajat orang tua saya, Aamiin.
Cerita hidup saya adalah bukti bahwa dengan tekad dan kerja keras, kita dapat mengatasi segala rintangan dan meraih impian kita, tidak peduli dari mana kita berasal. Saya berharap cerita inspiratif saya dapat menginspirasi orang lain untuk tidak pernah menyerah dalam mengejar impian mereka.
Setiap perjalanan hidup penuh dengan tantangan, namun keyakinan dan kerja keras akan membawa kita menuju keberhasilan. Ketika kita jatuh, jangan biarkan rasa takut menghalangi langkah untuk bangkit. Setiap kegagalan adalah pelajaran yang berharga, dan setiap langkah kecil menuju impian membawa kita lebih dekat dengan tujuan. Percayalah pada diri sendiri, terus berusaha, dan tidak pernah menyerah. Seperti matahari yang terbit setiap hari, kesempatan baru selalu ada untuk mereka yang berani melangkah. Jadilah inspirasi bagi diri sendiri dan orang lain, karena kisah sukses dimulai dari keteguhan hati yang tidak mudah patah.